Kejar Efisiensi Tanpa Korbankan Tenaga Kerja

Merebaknya pandemi COVID-19 telah sukses mengubah ‘wajah’ dunia. Tak hanya berkutat pada isu kesehatan, persebaran virus mematikan tersebut juga menerjang banyak sektor kehidupan lain.

Dengan memperhatikan peran sekaligus fungsi Pelabuhan sebagai gerbang perekonomian nasional, seluruh aktivitas kerja di pelabuhan bisa dianggap menjadi salah satu kunci geliat perekonomian di sebuah negara. Terjaganya seluruh aktivitas kerja di pelabuhan baik secara kuantitas maupun kualitas menjadi bentuk komitmen IPC untuk turut berkontribusi dalam menjaga stabilitas perekonomian nasional. 

Namun demikian, meski kinerja pelabuhan tetap berlangsung, bayang-bayang terhadap potensi pengurangan karyawan juga menjadi kegelisahan tersendiri bagi para tenaga kerja IPC di tengah kondisi yang serba tak menentu seperti saat ini. Kegelisahan ini wajar mengemuka, lantaran data dan fakta secara global juga menunjukkan tren yang serupa. 

Data internasional menyebutkan bahwa sedikitnya ada 5,3 juta tenaga kerja yang kehilangan pekerjaan di masa pandemi COVID-19 ini berlangsung. Hal ini belum memperhitungkan 24,7 juta tenaga kerja lainnya dari kalangan basic need yang juga kehilangan aktivitas penghidupannya. Kondisi ini tak lepas dari lesunya aktivitas trading di seluruh dunia, yang secara rata-rata turun hingga 12,9 persen. Hal ini membuat Gross Domestic Product (GDP) secara rata-rata di seluruh dunia juga susut 2,5 persen. Nilai tukar berbagai mata uang dunia terhadap dollar AS juga anjlok hingga 9,1 persen.

Meski demikian, Direktur Utama IPC Arif Suhartono menegaskan bahwa peluang pengurangan karyawan bukan merupakan bagian dari langkah efisiensi yang tengah dijalankannya saat ini. Sehingga, bisa dipastikan bila IPC tidak akan melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap karyawannya. Bahkan, IPC juga menegaskan tidak akan memotong gaji karyawan atau pun skema lainnya saat penerapan work form home (WFH). 

Dalam paparannya kepada media beberapa waktu lalu, Arif menyatakan bahwa fokusnya saat ini adalah menunda proyek-proyek investasi yang bersifat ‘nice to have’ dan hanya akan tetap menjalankan proyek-proyek urgent yang sifatnya ‘must have’. 

Selain itu, pendekatan yang dilakukannya dalam rangka penyesuaian kekaryawanan adalah menata ulang sistem kerja untuk menyesuaikan dengan kondisi yang ada, dan bukan pada pengurangan jumlah karyawan. 

“Faktanya adalah dengan adanya pandemi virus COVID-19 ini kita bisa melihat sesuatu yang baru. Bahwa ternyata ada pekerjaan-pekerjaan yang bisa kita kerjakan dari rumah. Ada yang bisa kita kerjakan secara remote, yaitu dari jauh. (Sistem) Ini yang harus kita tata ulang. Fokus kami saat ini lebih ke arah sana,” ujar Arif.

Diakuinya, kondisi yang ada saat ini juga menunjukkan bahwa pada satu sisi ada over capacity dalam hal jumlah karyawan yang dimiliki oleh IPC saat ini. Dalam artian bahwa untuk satu jenis pekerjaan yang tadinya harus dikerjakan oleh lebih banyak orang, dalam situasi saat ini terbuktinya bahwa rupanya bisa dikerjakan dengan tenaga kerja yang lebih sedikit namun dengan kualitas yang tetap terjaga. Dalam kacamata manajemen, dapat diartikan bahwa sistem kerja yang lama rupanya terbukti tidak efektif dan efisien, sehingga perlu dilakukan penataan ulang agar kinerja perusahaan ke depan dapat lebih maksimal. 

       “Namun hal itu tidak serta-merta kemudian harus disikapi dengan pengurangan karyawan. Tenaga kerja yang over capacity tadi bisa saja kita manfaatkan untuk peran dan penugasan yang lain. Artinya secara kinerja perusahaan justru dengan adanya (pandemi) ini ternyata masih bisa dikembangkan lagi menjadi lebih efektif dan optimal,” tutur Arif.

Selain bisa dimanfaatkan untuk peran dan penugasan yang lain, lanjut Arif, opsi pengurangan karyawan belum masuk dalam pertimbangan manajemen IPC lantaran sejauh ini dampak dari pandemi COVID-19 faktanya belum terlalu besar terhadap kinerja keuangan perusahaan. 

Arif mencatat sejak awal pandemi ini merebak ke seluruh dunia hingga saat ini, porsi penurunan kinerja operasional IPC baru sebatas empat persen saja. Karena itu, manajemen masih ingin melihat lebih jauh apakah dampak dan tren penurunan tersebut bakal terus berkembang lebih besar atau justru dapat dipertahankan dalam porsi yang sama, untuk kemudian diusahakan kembali recovery saat badai pandemi sudah mulai berakhir. 

“Kami tentu tidak mau gegabah dan asal-asalan dalam mengambil keputusan. Manajemen memutuskan akan kita tunggu sampai Bulan Juli untuk melihat seperti apa dampaknya (virus) ini terhadap kinerja perusahaan. Karena kalau kita bicara posisi saat ini, dampak penurunannya baru empat persen saja. Tentu kami tidak mau juga jumawa bahwa dampaknya masih cukup kecil. Makanya kita mau tunggu dulu. Kita lihat dulu. Dan sejauh ini, Saya bisa tegaskan untuk (opsi pengurangan karyawan) itu belum terpikirkan sama sekali di kami,” tegas Arif. (IPC)