Menjaga Lingkungan Lewat Kapal Pembersih Sampah

Sampah menjadi salah satu masalah lingkungan yang menjadi perhatian karena menjadi penyebab utama pencemaran lingkungan. Permasalahan sampah sudah tidak asing lagi didengar dan sudah merupakan hal yang krusial. 

Bahkan, sampah dikatakan sebagai masalah kultural karena dampaknya dapat menjalar ke berbagai sesi kehidupan, terutama di kota-kota besar. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mencatat bahwa ada sebanyak 7.600 ton sampah yang dihasilkan di Jakarta setiap harinya,

IPC sebagai perusahaan pengelola pelabuhan terbesar di Indonesia sadar betul akan permasalahan sampah yang mengancam kehidupan. Kapal pembersih sampah menjadi salah satu langkah nyata IPC untuk membantu mengurangi permasalahan yang ada. Pasalnya, berdasarkan data Bank Dunia kota-kota di Indonesia, khususnya wilayah pesisir, menyumbang sekitar 3,22 juta ton berbagai macam sampah ke lautan.

Deputi GM Teknik & Sistem Informasi IPC Cabang Tanjung Priok, Titah Yudhana menjelaskan bahwa keberadaan kapal pembersih sampah bertujuan untuk melakukan pembersihan sampah yang berada di permukaan air terutama di alur dan kolam pelabuhan sehingga diharapkan kondisi perairan alur dan kolam menjadi bersih dan tidak ada sampah yang juga dapat membahayakan keselamatan pelayaran.

“Kapal pembersih sampah merupakan fasilitas alat apung yang digunakan sebagai pengumpul sampah di permukaan air yang beroperasi di alur dan kolam pelabuhan Tanjung Priok,” jelas Titah. 

Produksi sampah darat dan sampah laut pelabuhan Tanjung Priok yang dihasilkan dan dibuang ke TPS Bantar Gebang mencapai sebesar 72 meter kubik setiap harinya dengan komposisi sekitar 18-25 persen atau 13-18 meter kubik (sekitar 20 ton) per hari merupakan sampah laut yang dihasilkan dari kinerja kapal dan perahu pembersih sampah.

Menurut Titah, kapal pembersih keberadaannya juga membantu bagi kelacaran operasional pelabuhan khususnya keselamatan pelayaran. “Karena ada sebagian sampah di laut berupa benda-benda melayang di air seperti potongan kayu dll yang dapat membahayakan jika sampah tersebut mengenai baling-baling kapal. Saat ini sebanyak enam kapal sampah yang beroperasi dengan LOA 15 meter dengan bobot 24 GT serta mempunyai kapasitas bak penampung sampah sebesar 4 M3 yakni KM. Krapu, KM. Sapu-sapu 1, KM. Sapu-sapu 2, KM. Lumba- lumba 1, KM. Lumba-lumba 2, dan KM. Lele yang masing- masing kapal dioperasikan oleh awak kapal yang bertugas sebagai tenaga bantu dan juru mudi yangg mempunyai sertifikat. 

Setiap harinya kapal pembersih sampah beroperasi dari pukul 7.30-17.00 WIB dengan cakupan area berbeda-beda untuk setiap kapal sampah berdasarkan zona/wilayah kerja yaitu kolam 1, 2, 3, Nusantara 1, Nusantara 2 dan alur kolam laut.

Untuk mendukung operasional  kapal pembersih sampah. IPC Cabang Priok juga memiliki perahu pembersih sampah yang diberi nama Jongjolang 1, Jongjolang 2, Salem 1, Salem 2, Buntel 1, dan Buntel 2.

“Dalam melaksanakan tugasnya, kapal pembersih sampah  dibantu oleh enam perahu motor yang berfungsi untuk mengambil sampah perairan yang berada pada celah-celah sempit antara kapal yang sandar dan dermaga,” terangnya. 

Meski begitu, Titah mengungkapkan bahwa ada beberapa hal yang sudah dilakukan pembenahan agar pengoperasian kapal pembersih sampah bisa lebih efektif dan bisa memberikan nilai tambah bagi perusahaan, yaitu diantaranya setiap kapal telah dilengkapi dengan GPS sebagai alat kontrol opersiaonal kapal sampah yang dapat memberikan informasi real time posisi kapal sampah dan tracking operasionalnya, adanya pembagian zona/wilayah kerja untuk masing – masing kapal sampah yang dimana selama jam operasional posisi kapal sampah selalu standby di lokasi tersebut sehingga dapat meningkatkan kinerja dan efisiensi pemakaian bahan bakar, serta berencana akan melakukan modernisasi dan pendekatan teknologi dalam pengolahan sampah sehingga dapat meningkatkan produktivitas dan  efisiensi.     

Dalam kesempatan ini Titah juga menyampaikan harapannya terkait dengan peringatan hari lingkungan hidup sedunia. Titah berharap adanya kesadaran dari kita semua untuk selalu menjaga kebersihan dan lingkungan. Saai ini Presiden Joko Widodo sudah menerbitkan Peraturan Presiden No.83/2018 tentang penangangan sampah laut, dimana dalam peraturan tersebut terdapat Rencana Aksi Nasional (RAN) penanganan sampah plastik di laut pada 2018-2025. “Untuk mendukung hal tersebut, IPC pun sudah membuat larangan penggunaan air minum dalam kemasan plastik di lingkungkan perusahaan,” tandasnya.  (IPC)