Lawan Pandemi, IPC Percepat Pembentukan Smart Port

Skenario pemulihan ekonomi tahap pertama sudah dimulai sejak awal Juni lalu. IPC sebagai salah satu garda terdepan dalam bisnis logistisk tanah air, sudah menyiapkan berbagai strategi untuk menyambutnya. Salah satunya adalah dengan mempercepat pembentuan smart port di setiap wilayah operasionalnya. 

Dengan aksi strategis tersebut, perusahaan dapat memotong rantai penyebaran virus sekaligus mempercepat pelayanan melalui layanan elektronik. Beberapa pelabuhan di negara maju sudah menerapkan digitalisasi pelabuhan hingga akhirnya berubah menjadi smart port. 

Rencana ini bukanlah barang baru dalam proyeksi bisnis perusahaan. Lima tahun sebelumnya, salah satu badan usaha milik negara (BUMN) itu sudah memiliki angan tersebut. Adanya pandemi seperti sekarang membuat perusahaan bergerak lebih cepat untuk bisa menuntaskannya.

Direktur Utama IPC Arif Suhartono mengatakan perusahaan melakukan transformasi digital dari dua sisi, yakni internal dan juga eksternal. Dari sisi internal perusahaan, transformasi digital dilakukan dengan menerapkan aplikasi digital untuk operasional di sisi laut maupun darat.      

Tidak berpuas diri, IPC terus mengembangkan layanan di portal tersebut. Ke depannya diharapkan layanan non petikemas dan juga layanan car terminal sudah bisa diakses melalui laman IPC E-Service. 

“Platform digital sangat bermanfaat bagi semua pihak, terutama bagi pelanggan pelabuhan. Karena dengan begitu pelanggan akan mendapatkan waktu pelayanan yang lebih singkat, transparan dan juga kemudahan untuk melakukan tracking,” katanya dalam Web Seminar Bertema Urgensi Smart Port Selama Fase Reopening Ekonomi yang digelar Bisnis Indonesia, Jumat (12/6/2020).

I-Hub

Pengembangan lainnya yang dilakukan IPC dalam rangka menuju pelabuhan pintar adalah I-Hub. Platform tersebut merupakan platform tunggal yang mampu memberikan pelayanan bagi semua pengguna jasa pelabuhan. 

Mulai dari layanan container, pelayaran, trucking, depo, non container, kargo dan layanan lainnya dapat menggunakan aplikasi tersebut. Dengan rencana pengembangan tersebut, maka bisnis IPC akan kian transparan dan juga efisien. 

“Pandemi ini diharapkan bisa menjadi momentum bagi para pengusaha logistik terutama pelabuhan untuk mempercepat implementasi pelabuhan pintar,” tambahnya.

Sekretaris Ditjen Perhubungan Laut, Kementerian Perhubungan Arif Toha Tjahjagama menambahkan perwujudan smart port alias pelabuhan pintar dapat menjadi solusi dalam menjalankan aktivitas logistik di tengah pandemi. 

Maklum, melalui digitalisasi pelabuhan, proses bisnis mampu kian efisien. Sehingga imbasnya akan berpengaruh terhadap kinerja perusahaan secara keseluruhan. 

“Teknologi informasi juga sudah menjadi isu strategis untuk mendorong terwujudnya pelabuhan pintar,” tambahnya.

Email mulai ditinggalkan

Pandemi memang membuat beberapa tatanan yang sudah ada dalam lingkup sosial dan juga bisnis berubah. Mau tidak mau, hal itu harus dilakukan guna tetap bisa berkembang di tengah kondisi seperti ini. 

Pakar Informasi Kepelabuhanan Supply Chain Indonesia, Rudy Sangian menjelaskan proses digitalisasi harus diiringi dengan proses otomasi dan integrasi. Sinergi antara dua komponen tersebut akan membuat kinerja pelabuhan menjadi lebih baik. 

“Adanya pandemi menuntut intraksi fisik antara petugas dan pelanggan dihilangkan,” jelasnya. Alhasil, pembentukan pelabuhan pintar tampaknya memang merupakan terobosan yang patut diapresiasi untuk mewujudkan Indonesia yang lebih baik. (IPC)