Menjaga Kinerja di Tengah Kontraksi

Pandemi virus corona (COVID-19) memberikan dampak yang super dashyat terhadap perekonomian global. Bank Dunia sudah mengeluarkan pernyataan bahwa ekonomi global akan terkontraksi hingga sebesar -5,2 persen tahun ini. Kontraksi tersebut menjadi resesi terdalam sejak Perang Dunia II. World Bank menyebut bahwa ekonomi Indonesia diperkirakan akan mengalami stagnan atau tumbuh di kisaran nol persen dan baru akan pulih dikisaran 4,8 persen pada 2021.

IPC sebagai perusahaan yang menyandang status sebagai Badan Usaha MIlik Negara (BUMN) juga sudah menyiapkan protokol ketat dalam menyambut tatanan kehidupan baru. 

eskipun kondisi perekonomian global dan Indonesia terdampak pandemi COVID-19, sesuai dengan harapan, kinerja IPC pada periode Januari hingga April 2020 masih terjaga dengan baik. Pada empat bulan pertama tahun 2020 IPC berhasil  membukukan pendapatan sebesar Rp3,5 triliun. 

“Memang trafik peti kemas pada periode Januari hingga April 2020 turun 4,8 persen. Namun pendapatan perseroan masih terjaga. Salah satu penopangnya adalah tumbuhnya kinerja beberapa anak perusahaan,” kata Direktur Utama IPC, Arif Suhartono,.

Salah satu anak usaha yang berkontribusi memberikan kinerja yang kinclong di tengah badai COVID-19 ini yakni, PT Jasa Armada Indonesia (JAI). Pada kuartal pertama, pendapatan usaha JAI naik 20 persen dibandingkan periode yang sama tahun 2019, dari Rp154 miliar menjadi Rp184 miliar.

Meski begitu, Ia tidak memungkiri jika pandemi COVID-19 telah menimbulkan dampak besar bagi perekonomian global dan nasional. Namun, lanjut Arif, IPC bakal terus berupaya untuk meminimalisir dampak tersebut jauh-jauh hari.

“Salah satu antisipasi yang kami lakukan adalah mengatur penugasan yang efektif di seluruh terminal, sehingga semua kapal yang bersandar terlayani sesuai jadwal kedatangan. Sejak awal virus Corona merebak, IPC tetap beroperasi dan memastikan semua aktivitas kapal barang di pelabuhan terlayani,” jelas Arif.

Ia menegaskan jika sejauh ini IPC belum melakukan revisi target pendapatan tahun 2020. Perseroan masih akan melihat situasi hingga akhir Juni untuk merevisi target-target tahun 2020. 

“Kita harapkan di era normal baru ini pandemi COVID-19 bisa dikendalikan sehingga perkonomian global bergerak, dan arus peti kemas bisa meningkat hingga kuartal keempat tahun 2020,” kata Arif.

Pada tahun 2019, IPC mencatat pendapatan usaha sebesar Rp11,14 Triliun, dengan laba bersih sebesar Rp2,50 triliun. Dengan mulai bergeraknya perekonomian di beberapa negara, seperti China, yang menjadi penyumbang terbesar arus peti kemas di Tanjung Priok, IPC berharap kinerja perseroan terus terjaga. Selama periode Januari-April 2020, arus peti kemas Tanjung Priok tercatat sebesar 2,12 juta TEUs. 

Di tahun 2020, IPC menargetkan arus peti kemas sebesar 8,1 juta TEUs dengan pendapatan perusahaan diharapkan mencapai Rp13,5 Triliun. Sedangkan untuk laba bersih, IPC menargetkan sebesar Rp3,1 Triliun.

Untuk itu,  sejak kuartal pertama 2020 sudah merespons pelambatan ekonomi global dengan melakukan pengaturan pelayanan yang efektif, dengan tetap mengutamakan kualitas pelayanan dan operasional. (IPC)